Monday, May 6, 2019

Peran Mahasiswa dalam Refleksi Pesta Demokrasi

Oleh : Sochi Kholilul Lutfi

Era modern saat ini, peran mahasiswa sangatlah besar. Mulai dari lini sosial, ekonomi, politik dan lain sebagainya. Di Indonesia, istilah “Maha” adalah sebutan untuk seseorang yang dimuliakan. Kemuliaan yang diberikan pada individu maupun kelompok yang memiliki kesempatan belajar lebih untuk mengembangkan diri, dan meningkatkan keterampilan. Gelar mahasiswa sudah menjadi kebanggan sekaligus tantangan tersendiri bagi setiap individu yang menyandangnya. Mahasiswa harus mampu menghadapi berbagai tantangan dan permasalahan serta menemukan solusi atas permasalahan tersebut. Untuk menghadapi itu, tentu mahasiswa membutuhkan modal (dalam hal ini pengetahuan) yang tidak sedikit. Oleh karenanya, rugi kiranya apabila mahasiswa hanya belajar di dalam kelas. Tanpa turut serta menjadi bagian organisasi dan berpartisipasi dalam masyarakat.
Sebenarnya, peran mahasiwa sangatlah luas. Masyarakat sangat menantikan dharma bakti mahasiswa untuk membangun dan memperbaiki lingkungan sekitar, bahkan Negara dalam lingkup yang lebih luas. Lantas, mengapa harus mahasiswa? Karena mahasiswa memiliki peran sebagai agen perubahan (agent of change), kontrol sosial (social control), dan pengganti generasi sebelumnya (iron stock).
Sebagai agent of change, mahasiswa harus melakukan dan memperjuangkan perubahan-perubahan yang lebih baik di segala bidang, baik dalam bidang ekonomi, politik, sosial ataupun yang lainya. Seperti istilah yang sudah tidak asing bagi kita, “Beri aku 10 pemuda maka akan ku guncang dunia”. Demikian kata Bung Karno dalam pidatonya. Kalimat itu menunjukan bahwa mahasiswa sebagai pemuda sangat dipercaya untuk merubah tatanan sosial masyarakat yang salah agar lebih baik lagi untuk ke depanya.
Kemudian social control. Tugas ini adalah untuk menyadarkan bahwa mahasiswa mempunyai tugas lain yang juga sangat penting. Tugas itu adalah untuk tetap menjaga masyarakat dan juga mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah dalam membuat regulasi. Sikap kritis yang lahir dari pemikiran kaum intelektual seperti mahasiswa sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat.
Selanjutnya adalah iron stock. Mahasiswa sebagai pengganti generasi-generasi sebelumnya, sehingga dibutuhkan pengetahuan, keterampilan dan akhlak yang mulia yang perlu ada di dalam dirinya. Di samping dari tiga peran di atas, mahasiswa juga harus mempunyai sikap religius saat menjalankan peran dan fungsinya sebagai mahasiswa tanpa menyimpang dari nilai-nilai keagamaan.
Tahun 2019 adalah tahun politik di Indonesia. Semua berbondong-bondong mengkampenyakan diri, pasangan calon (paslon) maupun tim sukses (timses) masing-masing agar menang dalam kontestasi Pemilihan Umum (Pemilu). Pemilihan Presiden (Pilpres) menjadi salah satu media obrolan yang hangat diperbincangkan. Perbincangan mengenai Pilpres ini menyuluruh sampai seantero negeri. Tensi politik semakin memanas, suhu politik semakin membara disebabkan pertarungan dalam membangun citra untuk menunjukan eksistensinya masing-masing. Mulai dari partai politik, elite politik dan simpatisan rela mati-matian untuk meraih kesuksesan dengan berbagai macam strategi.
Tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan demi memenangkan kontestasi. Politik uang (money politic) tentu bukanlah menjadi sesuatu hal yang baru. Hal ini dikarenakan money politic sendiri menjadi bagian strategi dari para calon. Mereka (calon) tidak peduli dengan keadaan, akibat, dan dampak dari manuver yang dilakukanya supaya bisa menduduki kursi jabatan yang di inginkan. Dengan begitu bisa dilihat bahwa realitas sistem demokrasi sangat membutuhkan biaya besar (higt cost) sehingga ini sudah tidak menjadi rahasia lagi bahwa individu yang mencalonkan diri baik sebagai Pilkada, Caleg maupun pilpres harus mempunyai modal yang sangat besar untuk memenangkan dirinya dalam pesta demokrasi.
Indonesia sudah bisa dikatakan darurat kebebasan dalam demokrasi. Mulai dari para calon, parpol, maupun masyarakat timses sudah tidak peduli dengan perpecahan yang terjadi di masyarakat. Banyak sekali masyarakat yang bertengkar dan memutuskan tali persaudaraan mereka hanya karena beda pilihan saja. Misalnya, di Desa Toto Selatan, Kecamatan Kabila, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, dua kuburan di pindahkan karena keluarga jenazah berbeda pilihan Caleg dengan pemilik tanah (detik news). Hal ini juga tidak lain hasil daripada kampanye politik yang terjadi pada saat ini.
Melihat kejadian seperti itu, di sinilah peran mahasiswa sangat di nanti-nanti untuk tanggap dalam menyikapi situasi bangsa. Mahasiswa sejatinya memiliki visi untuk membawa bangsa ke arah yang lebih baik, mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan indvidu maupun kepentingan kelompoknya sendiri. Karena mahasiswa mempunyai peran besar untuk membawa bangsa Indonesia menuju bangsa yang beradab. Sudah saatnya kita menunjukan kualitas mahasiswa dalam menyikapi dan menindak lanjuti situasi politik saat ini.
Mahasiswa dengan segala kelebihannya tidak bisa disamakan dengan masyarakat pada umumunya. Mahasiswa tergolong kaum idealis, di mana keyakinan dan pemikirannya terbebas dari pihak yang memiliki kepentingan, seperti; parpol, ormas maupun organisasi lainya. Dengan melakukan interaksi sosial kepada masyarakat, mahasiswa menjelaskan realita sosisal yang terjadi saat ini dan memberikan solusi yang dapat dipertanggungjawabkan dalam menjawab berbagai masalah yang ada di masyarakat. Karena mahasiswa dapat berperan sebagai apa saja dalam menyikapi permasalahan permasalahan yang terjadi.
Sebagai generasi yang berpendidikan tinggi, mahasiswa di harapkan dapat menyikapi, menindak lanjuti, dan memberikan solusi kepada masyarakat. oleh karenanya, tanggung jawab mahasiswa sesungguhnya sangatlah besar. Maka dari itu, mari menjadi mahasiswa yang sebagaimana mestinya. Tidak perlu malu atau takut dalam menyampaikan pendapat. Dan yang perlu diingat, bahwa mahasiswa adalah tonggak penerus peradaban untuk merubah masa depan negara menjadi lebih baik dan mampu bersaing dengan negara lain. Jangan pernah takut dan tetap menjadi bagian dari masyarakat dalam menjaga keutuhan bangsa









Wednesday, October 19, 2016

Mengerti Tapi Tak Menyadari

Sumber : nujateng.com
Oleh: KH. Ubaidullah Shodaqoh
(Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah)
Engkau mengerti aku ada karena “sosok” atau “bahasa”. Semua manusia bisa mengerti mengapa api panas, berbenturan dengan aspal itu menyakitkan, narkoba itu merusak. Namun sebagian kecil saja yang menyadarinya, sehingga masih banyak orang bermain api, kebut-kebutan dan tidak tertib di jalan dan pengecaman hukuman mati bagi bandar.
Kita pun mengerti al-Qur’an adalah wahyu, kita pun dapat kenal Pencipta kita karenanya. Kita dapat mengerti maknanya kalimat demi kalimat yang merangkai menjadi ayat, lalu surat. Adalah pekerjaan ilmu bahasa yang semestinya mengantarkan kita menuju suatu fase kesadaran lalu penghayatan.
Sayang saya tak mengerti kaedah bahasa Indonesia, juga sedikit seluk beluk bahasa wahyu (arab). Membaca al-Qur’an terasa “dleming” saja (kritik guru Madin Bapak Ikhsan Sardi dari pelosok Pati). Ada yang sudah dipelajari dahulu di sudut kamar apek dan serambi masjid, tapi baru saat ini mendapat kesadaran (meski baru sekelumit), begitu pengalaman saya teringat untaian nadham Syaikh Jalaluddin as-Suyuthi rahimahullah:
والأصل فى الخطاب ان يعينا مخاطب وفقد ذاك يعتنى
كقوله سبحانه ولو ترى لكي يعم كل شخص فد يرى
Asal dari khithab yaitu arah bicara kepada orang kedua (mukhathab) itu harus tertentu. “Kamu” dengan maksud Kang Umar atau “kalian” yang dimaksud adalah sekumpulan orang yang berada di hadapan. Tapi ada “kamu” yang tidak kang Umar saja, atau “kalian ” yang ada di hadapanku saja. “Kamu” dan “kalian” bisa berarti siapa saja. Ayat yang dicontohkan oleh al-Imam rahimahulloh adalah ayat “walau tara….”. Sedang apa yang saya fahami dari Syaikh Sa’id Ramadlan rahimahulloh adalah gejala bahasa tersebut juga terdapat pada ayat ini:
واعلموا ان فيكم رسول الله … الحجرات 17
Ketahuilah wahai kalian, susungguhnya Rasulullah berada diantara kalian (kalian para sahabat, kalian para tabiin, kalian para tabi’it tabi’in, kalian orang-orang saat ini, dan kalian generasi yang akan datang) yang mencintai, menyadari. Wafatnya tidak mengurangi kesertaannya dengan kita.
Rasulullah, Kanjeng Rasul, Nabi Agung Sayyidul anbiya’ , “raûf rahim”, Nabi terkasih dan pengasih shallallohu ‘alaihi wa alihi wa sallam, masih selalu menyertai orang-orang yang mengerti dan menyadari. Merkalah para rasyidun. Bukankah dalam tahiyyat kita masih membaca assalamu ‘alaika, ka, ka, ka, bukan assalamu ‘alaihi?
Sumber : http://nujateng.com/

Cara Memilih Pemimpin Lewat Teladan Ibrahim

Sumber : Google

Oleh : Dr. Achmad Fadhil Sumadi, S.H

Assalamu`alaikum Wr. Wb.

Hadirin Jama`ah Jum`at rokhimakumullah.
Setelah kita memanjatkan tahmid, memanjatkan tasyahud kita, memanjatkan sholawat dan salam untuk Nabi Muhammad SAW. Maka melalui mimbar ini pula mari kita bersama-sama untuk mengoreksi diri kita masing-masing supaya kehidupan kita dimasa yang akan datang ketakwaannnya makin meningkat dan makin berkualitas.
Hadirin Jama`ah Jum`at rokhimakumullah.
Sebelum saya melanjutkan apa yang saya kutip dari Al - Qur`an Al-Karim sebagai bahan untuk introspeksi kita. Perkenankan saya juga untuk mengingatkan untuk semua jama`ah untuk selalu berdoa bagi jamaah haji kita, dan berdoa pula untuk rekan-rekan kita kaum Muslimin yang menunaikan haji yang terkena musibah sebagaimana kita tadi sudah sholat goib bersama-sama.
Hadirin Jama`ah Jum`at rokhimakumullah.
Untuk mempersingkat apa yang terdapat di dalam Q.S Al – Baqoroh : 124 – 125 saya ingin mengemukakan beberapa hal untuk bahan introspeksi kita. yang (1) dalam Q.S Al – Baqoroh ayat 124. Allah akan mengangkat orang sebagai pemimpin hanya bila yang bersangkutan telah lulus dalam ujin yang telah diberikan Allah kepadanya. (2) Siapapun meski dia adalah keturunan pemimpin besar semacam Nabi Ibrahim A.S bila tidak lulus ujian sedangkan ia berlaku dzolim tak akan memperoleh janji allah menjadi pemimpin.
Pada Q.S Al – Baqoroh ayat 125. I`doh yang bisa kita ambil (1) Bahwa Nabi Ibrohim  benar memperoleh janji allah menjadi sebagai pemimpin bagi manusia. (2) Meskipun beliau sebagai pemimpin tapi ujian allah dan kontinuitas atas tanggung jawab menjadi pemimpin sebagai konsekuesnsi keimanan beliau tak boleh berhenti.
Hadirin Jama`ah Jum`at rokhimakumullah.
Apa ujian allah dan bagaimana Nabi Ibrohim  A.S menghadapinya, kalo kita ceritakan secara kuantitas ujian yang dialami beliau sangatlah banyak, dan bahkan berlangsung sepanjang hidupnya.
Bila dilihat dari kualitas ujian beliau sangatlah berat, karena ujian itu terkait dengan ketuhanan dan agama. 2 ujian itu mengancam milik manusia yang sangat berharga yaitu nyawa. Nyawa bagi Nabi Ibrohim  sendiri dan juga bagi anaknya, mengancam pula kehormatan tempat tinggal dan keluarga beliau.
Hadirin Jama`ah Jum`at rokhimakumullah.
Satu hal yang kita sering mengulang-ulang di dalam Al-Qur`an. Kita tahu Nabi Ibrohim  diuji dengan matahari yang manfaatnya besar bagi manusia, bulan, bintanggemintang semua mengantarkan orang pada yamannya untuk menuhankan mereka, tapi Nabi Ibrohim  lulus, beliau menjadi orang beragama secara hanif secara tauhid.
Beliau juga diuji dengan berselisih dengan raja yang berkuasa pada saat itu Namrud, yang karena perselisihan itu terkait dengan soal ketuhanan dan agama pula beliau diancam dengan hukuman untuk dibakar sampai mati, beliau lulus dan akhirnya selamat.
Beliau karena berselisih dengan raja dan apa yang dilakukannya berbeda dengan kaumnya dikucilkan oleh kaumnya oleh hampir seluruh penduduk bahkan oleh keluarganya sendiri beliau diusir, dan bahkan allah juga memerintahkan untuk meninggalkan tempat dimana ia dibesarkan tempat dia dilahirkan, bahkan pernah suatu ketika Nabi Ibrohim  supaya meninggalkan istri dan anak yang baru saja dilahirkan ketika usianya sudah 80 tahun di Makkah.
Beliau tinggalkan anak dan istri sampai beliau tidak sampai hati untuk bilang pada istrinya, dan akhirnya atas pertanyaan istri berkali-kali istri bertanya yang terakhir, apakah kakanda pergi karena perintah allah dan Ibrohim  menjawabnya: iya. Dan pergilah beliau sementara hajar yang ditinggalkannya bersama ismail sangatlah susah payah karena tempat yang dia tinggal adalah lembah tanpa tanaman sedikit pun bahkan juga air.
Hadirin Jama`ah Jum`at rokhimakumullah.
Beliaupun lulus, akhirnya beliau dapat tempat tinggal yang baru, keluarganya utuh tidak bercerai berai bhkan istrinya yang satunya lagi sarah sampai kemudian memperoleh putranya yang berikutnya ishak. Yang kini sedang kita tapak tilasi adalah diperintahannya Ibrohim  untuk mengorbankan anaknya, Ibrohim  lulus pula dan akhirnya qurban diganti dengan kambing dan ternak lainnya.
Hadirin Jama`ah Jum`at rokhimakumullah.
Apa dan bagaimana kepemimpinan beliau, inti dari kepemimpinan adalah (1) Perintah dan larangannya ditaati, (2) Langkahnya diikuti oleh pengikutnya (3)  Pribadinya dan keluarganya menjadi tauladan bagi umat manusia.
Hadirin Jama`ah Jum`at rokhimakumullah.
Beliau telah memenuhi semuanya itu, semua sarat-sarat kepemimpinan. Hingga ketikan Nabi Muhammad dibangkit sebag rosul ajaran sholawat beliau kepada kita.
“Allahhumma Sholli`ala sayidina Muhammad wa`ala ali sayyidina muhammad kama sollaita `ala sayyidina ibrohim wa`ala ali ibrohim.”
Hadirin Jama`ah Jum`at rokhimakumullah.
Pertanyaan yang terakhir adalah, apa relevansi dari kisah Ibrohim  itu untuk kisah sekarang. Didalam kehidupan kemasyarakatan khususnya diyaman modern ini, kita hidup dalam berbangsa dan bernegara. Kini republik indonesia tempat kita tinggal berbangsa dan bernegara semuanya punya hak turut serta adanya kepemimpinan baik sebagai calon yang dipilih atau sebagai warga yang akan memilihnya.
Kitalah yang sesungguhnya akan menentukan. Kalo kita menengok kembali idoh dalam kisah Ibrohim, makas sebelum kita memutuskan untuk mendaftarkan diri menjadi calon pemimpin dinegeri ini sebagai presiden, gubernur, walikota, bupati, ataupun sebagai kepala desa. Sebelum memutuskan untuk memilih itu pertimbangkan secara sunguh-sungguh kesesuaiannya dengan mauidoh yang ada didalam ayat 124 didalam menjawab pertanyaan, apakah calon yang kita pilih telah lulus dalam ujian hidupnya?, apakah trace record nya telah sesuai yang digambarkan oleh sejarah Ibrohim?. Demikian pula ketika kita akan mencalonkan diri, tengoklah baik-baik diri kita apakah diri kita sudah pantas seperti yang digambarkan oleh kisah Ibrohim  ini atau belum.

Demikianlah mudah-mudahan kita semua memperoleh hidayah dari Allah SWT dan ketika kita memutuskan itu untuk dipilih atau memilih kita mendaptkan taufik dari Allah SWT.


Monday, September 12, 2016

Khutbah Idul Adha: Tiga Pelajaran Utama Hari Raya Kurban


Khutbah I

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ. الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الزّمَانِ وَفَضَّلَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَخَصَّ بَعْضُ الشُّهُوْرِ وَالأَيَّامِ وَالَليَالِي بِمَزَايَا وَفَضَائِلِ يُعَظَّمُ فِيْهَا الأَجْرُ والحَسَنَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اللّهُمَّ صَلّ وسّلِّمْ علَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمّدٍ وِعَلَى آلِه وأصْحَابِهِ هُدَاةِ الأَنَامِ في أَنْحَاءِ البِلاَدِ. أمَّا بعْدُ، فيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى بِفِعْلِ الطَّاعَاتِ
فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ.


Hari raya kurban atau biasa kita sebut Idul Adha yang kita peringati tiap tahun tak bisa terlepas dari kisah Nabi Ibrahim sebagaimana terekam dalam Surat ash-Shaffat ayat 99-111. Meskipun, praktik kurban sebenarnya sudah dilaksanakan putra Nabi Adam yakni Qabil dan Habil. Diceritakan bahwa kurban yang diterima adalah kurban Habil bukan Qabil. Itu pun bukan daging atau darah yang Allah terima namun ketulusan hati dan ketakwaan dari si pemberi kurban.

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. (Al-Hajj: 37)

Kendati sejarah kurban sudah berlangsung sejak generasi pertama umat manusia, namun syariat ibadah kurban dimulai dari cerita perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih anak kesayangannya, Ismail (‘alaihissalâm). Seorang anak yang ia idam-idamkan bertahun-tahun karena istrinya sekian lama mandul. Dalam Surat ash-Shaffat dijelaskan bahwa semula Nabi Ibrahim berdoa:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ.

“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.”

Allah lalu memberi kabar gembira dengan anugerah kelahiran seorang anak yang amat cerdas dan sabar (ghulâm halîm). Hanya saja, ketika anak itu menginjak dewasa, Nabi Ibrahim diuji dengan sebuah mimpi. Ia berkata, "Wahai anakku, dalam tidur aku bermimpi berupa wahyu dari Allah yang meminta aku untuk menyembelihmu. Bagaimana pendapat kamu?" Anak yang saleh itu menjawab, "Wahai bapakku, laksanakanlah perintah Tuhanmu. Insya Allah kamu akan dapati aku termasuk orang-orang yang sabar."

Tatkala sang bapak dan anak pasrah kepada ketentuan Allah, Ibrâhîm pun membawa anaknya ke suatu tumpukan pasir. Lalu Ibrâhîm membaringkan Ismail dengan posisi pelipis di atas tanah dan siap disembelih.

Jamaah shalat Idul Adha hadâkumullâh,

Atas kehendak Allah, drama penyembelihan anak manusia itu batal dilaksanakan. Allah berfirman dalam ayat berikutnya:

إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ. وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ. وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ. سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ. كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ. إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ

“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim’. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.”

Hadirin,

Ibadah kurban tahunan yang umat Islam laksanakan adalah bentuk i’tibar atau pengambilan pelajaran dari kisah tersebut. Setidaknya ada tiga pesan yang bisa kita tarik dari kisah tentang Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail serta ritual penyembelihan hewan kurban secara umum.

Pertama, tentang totalitas kepatuhan kepada Allah subhânau wata’âla. Nabi Ibrahim yang mendapat julukan “khalilullah” (kekasih Allah) mendapat ujian berat pada saat rasa bahagianya meluap-luap dengan kehadiran sang buah hati di dalam rumah tangganya. Lewat perintah menyembelih Ismail, Allah seolah hendak mengingatkan Nabi Ibrahim bahwa anak hanyalah titipan. Anak—betapapun mahalnya kita menilai—tak boleh melengahkan kita bahwa hanya Allahlah tujuan akhir dari rasa cinta dan ketaatan.

Nabi Ibrahim lolos dari ujian ini. Ia membuktikan bahwa dirinya sanggup mengalahkan egonya untuk tujuan mempertahankan nilai-nilai Ilahi. Dengan penuh ketulusan, Nabi Ibrahim menapaki jalan pendekatan diri kepada Allah sebagaimana makna qurban, yakni pendekatan diri.

Sementara Nabi Ismail, meski usianya masih belia, mampu membuktikan diri sebagai anak berbakti dan patuh kepada perintah Tuhannya. Yang menarik, ayahnya menyampaikan perintah tersebut dengan memohon pendapatnya terlebih dahulu, dengan tutur kata yang halus, tanpa unsur paksaan. Atas dasar kesalehan dan kesabaran yang ia miliki, ia pun memenuhi panggilan Tuhannya.

Jamaah shalat Idul Adha hadâkumullâh,

Pelajaran kedua adalah tentang kemuliaan manusia. Dalam kisah itu di satu sisi kita diingatkan untuk jangan menganggap mahal sesuatu bila itu untuk mempertahankan nilai-nilai ketuhanan, namun di sisi lain kita juga diimbau untuk tidak meremehkan nyawa dan darah manusia. Penggantian Nabi Ismail dengan domba besar adalah pesan nyata bahwa pengorbanan dalam bentuk tubuh manusia—sebagaimana yang berlangsung dalam tradisi sejumlah kelompok pada zaman dulu—adalah hal yang diharamkan.

Manusia dengan manusia lain sesungguhnya adalah saudara. Mereka dilahirkan dari satu bapak, yakni Nabi Adam ‘alaihissalâm. Seluruh manusia ibarat satu tubuh yang diciptakan Allah dalam kemuliaan. Karena itu membunuh atau menyakiti satu manusia ibarat membunuh manusia atau menyakiti manusia secara keseluruhan. Larangan mengorbankan manusia sebetulnya penegasan kembali tentang luhurnya kemanusiaan di mata Islam dan karenanya mesti dijamin hak-haknya.

Pelajaran yang ketiga yang bisa kita ambil adalah tentang hakikat pengorbanan. Sedekah daging hewan kurban hanyalah simbol dari makna korban yang sejatinya sangat luas, meliputi pengorbanan dalam wujud harta benda, tenaga, pikiran, waktu, dan lain sebagainya.

Pengorbanan merupakan manifestasi dari kesadaran kita sebagai makhluk sosial. Bayangkan, bila masing-masing manusia sekadar memenuhi ego dan kebutuhan sendiri tanpa peduli dengan kebutuhan orang lain, alangkah kacaunya kehidupan ini. Orang mesti mengorbankan sedikit waktunya, misalnya, untuk mengantre dalam sebuah loket pejuatan tiket, bersedia menghentikan sejenak kendaraannya saat lampu merah lalu lintas menyala, dan lain-lain. Sebab, keserakahan hanya layak dimiliki para binatang. Di sinilah perlunya kita “menyembelih” ego kebinatangan kita, untuk menggapai kedekatan (qurb) kepada Allah, karena esensi kurban adalah solidaritas sesame dan ketulusan murni untuk mengharap keridhaan Allah. Wallahu a’lam.

Khutbah II


اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. 
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Alif Budi Luhur
Khutbah Idul Adha: Tiga Pelajaran Utama Hari Raya Kurban
Khutbah I

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ. الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الزّمَانِ وَفَضَّلَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَخَصَّ بَعْضُ الشُّهُوْرِ وَالأَيَّامِ وَالَليَالِي بِمَزَايَا وَفَضَائِلِ يُعَظَّمُ فِيْهَا الأَجْرُ والحَسَنَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اللّهُمَّ صَلّ وسّلِّمْ علَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمّدٍ وِعَلَى آلِه وأصْحَابِهِ هُدَاةِ الأَنَامِ في أَنْحَاءِ البِلاَدِ. أمَّا بعْدُ، فيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى بِفِعْلِ الطَّاعَاتِ
فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ.


Hari raya kurban atau biasa kita sebut Idul Adha yang kita peringati tiap tahun tak bisa terlepas dari kisah Nabi Ibrahim sebagaimana terekam dalam Surat ash-Shaffat ayat 99-111. Meskipun, praktik kurban sebenarnya sudah dilaksanakan putra Nabi Adam yakni Qabil dan Habil. Diceritakan bahwa kurban yang diterima adalah kurban Habil bukan Qabil. Itu pun bukan daging atau darah yang Allah terima namun ketulusan hati dan ketakwaan dari si pemberi kurban.

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. (Al-Hajj: 37)

Kendati sejarah kurban sudah berlangsung sejak generasi pertama umat manusia, namun syariat ibadah kurban dimulai dari cerita perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih anak kesayangannya, Ismail (‘alaihissalâm). Seorang anak yang ia idam-idamkan bertahun-tahun karena istrinya sekian lama mandul. Dalam Surat ash-Shaffat dijelaskan bahwa semula Nabi Ibrahim berdoa: 

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ.

“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.”

Allah lalu memberi kabar gembira dengan anugerah kelahiran seorang anak yang amat cerdas dan sabar (ghulâm halîm). Hanya saja, ketika anak itu menginjak dewasa, Nabi Ibrahim diuji dengan sebuah mimpi. Ia berkata, "Wahai anakku, dalam tidur aku bermimpi berupa wahyu dari Allah yang meminta aku untuk menyembelihmu. Bagaimana pendapat kamu?" Anak yang saleh itu menjawab, "Wahai bapakku, laksanakanlah perintah Tuhanmu. Insya Allah kamu akan dapati aku termasuk orang-orang yang sabar."

Tatkala sang bapak dan anak pasrah kepada ketentuan Allah, Ibrâhîm pun membawa anaknya ke suatu tumpukan pasir. Lalu Ibrâhîm membaringkan Ismail dengan posisi pelipis di atas tanah dan siap disembelih.

Jamaah shalat Idul Adha hadâkumullâh,

Atas kehendak Allah, drama penyembelihan anak manusia itu batal dilaksanakan. Allah berfirman dalam ayat berikutnya:

إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ. وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ. وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ. سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ. كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ. إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ

“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim’. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.”

Hadirin,

Ibadah kurban tahunan yang umat Islam laksanakan adalah bentuk i’tibar atau pengambilan pelajaran dari kisah tersebut. Setidaknya ada tiga pesan yang bisa kita tarik dari kisah tentang Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail serta ritual penyembelihan hewan kurban secara umum.

Pertama, tentang totalitas kepatuhan kepada Allah subhânau wata’âla. Nabi Ibrahim yang mendapat julukan “khalilullah” (kekasih Allah) mendapat ujian berat pada saat rasa bahagianya meluap-luap dengan kehadiran sang buah hati di dalam rumah tangganya. Lewat perintah menyembelih Ismail, Allah seolah hendak mengingatkan Nabi Ibrahim bahwa anak hanyalah titipan. Anak—betapapun mahalnya kita menilai—tak boleh melengahkan kita bahwa hanya Allahlah tujuan akhir dari rasa cinta dan ketaatan.

Nabi Ibrahim lolos dari ujian ini. Ia membuktikan bahwa dirinya sanggup mengalahkan egonya untuk tujuan mempertahankan nilai-nilai Ilahi. Dengan penuh ketulusan, Nabi Ibrahim menapaki jalan pendekatan diri kepada Allah sebagaimana makna qurban, yakni pendekatan diri. 

Sementara Nabi Ismail, meski usianya masih belia, mampu membuktikan diri sebagai anak berbakti dan patuh kepada perintah Tuhannya. Yang menarik, ayahnya menyampaikan perintah tersebut dengan memohon pendapatnya terlebih dahulu, dengan tutur kata yang halus, tanpa unsur paksaan. Atas dasar kesalehan dan kesabaran yang ia miliki, ia pun memenuhi panggilan Tuhannya.

Jamaah shalat Idul Adha hadâkumullâh,

Pelajaran kedua adalah tentang kemuliaan manusia. Dalam kisah itu di satu sisi kita diingatkan untuk jangan menganggap mahal sesuatu bila itu untuk mempertahankan nilai-nilai ketuhanan, namun di sisi lain kita juga diimbau untuk tidak meremehkan nyawa dan darah manusia. Penggantian Nabi Ismail dengan domba besar adalah pesan nyata bahwa pengorbanan dalam bentuk tubuh manusia—sebagaimana yang berlangsung dalam tradisi sejumlah kelompok pada zaman dulu—adalah hal yang diharamkan.

Manusia dengan manusia lain sesungguhnya adalah saudara. Mereka dilahirkan dari satu bapak, yakni Nabi Adam ‘alaihissalâm. Seluruh manusia ibarat satu tubuh yang diciptakan Allah dalam kemuliaan. Karena itu membunuh atau menyakiti satu manusia ibarat membunuh manusia atau menyakiti manusia secara keseluruhan. Larangan mengorbankan manusia sebetulnya penegasan kembali tentang luhurnya kemanusiaan di mata Islam dan karenanya mesti dijamin hak-haknya.

Pelajaran yang ketiga yang bisa kita ambil adalah tentang hakikat pengorbanan. Sedekah daging hewan kurban hanyalah simbol dari makna korban yang sejatinya sangat luas, meliputi pengorbanan dalam wujud harta benda, tenaga, pikiran, waktu, dan lain sebagainya. 

Pengorbanan merupakan manifestasi dari kesadaran kita sebagai makhluk sosial. Bayangkan, bila masing-masing manusia sekadar memenuhi ego dan kebutuhan sendiri tanpa peduli dengan kebutuhan orang lain, alangkah kacaunya kehidupan ini. Orang mesti mengorbankan sedikit waktunya, misalnya, untuk mengantre dalam sebuah loket pejuatan tiket, bersedia menghentikan sejenak kendaraannya saat lampu merah lalu lintas menyala, dan lain-lain. Sebab, keserakahan hanya layak dimiliki para binatang. Di sinilah perlunya kita “menyembelih” ego kebinatangan kita, untuk menggapai kedekatan (qurb) kepada Allah, karena esensi kurban adalah solidaritas sesame dan ketulusan murni untuk mengharap keridhaan Allah. Wallahu a’lam.

Khutbah II

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. 
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Alif Budi Luhur

Sumber : http://www.nu.or.id/

Monday, July 18, 2016

Lagu Darah Juang - John Tobing


Kalo anda seorang aktifis pergerakan pasti lagu ini tidak lah asing ditelinga anda, karena lagu ini pasti menajadi pecut sang orator aksi guna memberikan penyemangat bagi agen revolusi yang turun ke jalan untuk menyampaikan keresahannya kepada pemerintah yang dinilai tidak becus menjalankan amanahnya.

Darah Juang sebuah lagu yang muncul pada masa rezim Presiden Soeharto (Presiden RI ke 2), lagu ini diciptakan oleh Jhon Tobing.

Hingga saat ini Darah Juang masih bertahan menjadi lagu kebanggaan aktifis pergerakan dandiajarkan kepada kader-kader aktifis baru tidak terkecuali PMII Rayon Ekonomi Komisariat Walisongo Semarang.
 
Disini negri kami
Tempat padi terhampar
Samudranya kaya raya
Tanah kami subur tuan...

Dinegri permai ini
Berjuta Rakyat bersimbah rugah
Anak buruh tak sekolah
Pemuda desa tak kerja...

Mereka dirampas haknya
Tergusur dan lapar
bunda relakan darah juang kami
tuk membebaskan rakyat...

Mereka dirampas haknya
Tergusur dan lapar
bunda relakan darah juang kami
pada mu kami berjanji...


Download MP3

 

© 2016 PMII RAYON EKONOMI. All rights resevered. Designed by Templateism | Site Map | Privacy Police | Disclaimer

Back To Top